Aermata Arosbaya

aermata-1

Pasarean Aermata atau Makam Ratu Ibu, demikian penduduk Madura menyebut situs bersejarah yang berada di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Kabupaten Bangkalan ini.

Sejak ratusan tahun silam, Aermata tak hanya populer karena keunikan seni arsitekturnya, tetapi juga karena kadar kekeramatannya. Itu sebabnya, Pasarean Aermata tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah.

Terlebih di saat-saat tertentu, seperti pada malam jum’at legi, jum’at wage, bulan suro, saat malam ganjil di bulan Ramadhan, atau syawal jumlah pengunjung di kompleks makam itu meledak bukan kepalang. Bila dihitung secara kasar jumlahnya bisa mencapai ribuan orang peziarah.

Peziarah datang tak hanya dari Madura saja, juga ada yang datang dari luar kota bahkan sampai luar negeri. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk luar negerinya berasal dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan bahkan Bangladesh.

Kompleks kuburan kuno itu terhampar kokoh di puncak bukit kecil berketinggian sekitar 30 meter di atas permukaan laut (mdpl). Karena itu pula saat kita berkunjung ke sana, mencapai makam itu terlebih dulu harus menaiki puluhan anak tangga agar sampai di Pasarean Aermata.

Sampai di atas kompleks makam, kita akan menjumpai pagar batu andelis warna putih yang mengitari makam, batu-batu itu disusun rapi, tanpa menggunakan perekat semen bak bangunan candi-candi tua di Pulau Jawa. Ada enam cungkup ukuran besar, sedang, dan kecil berdiri tegar di bagian tengahnya. Desain arsitekturnya yang unik tak hanya menawarkan keelokan situs karya seni yang antik, namun juga menyiratkan nuansa sakral dan juga magis.

Aroma keunikan dan daya tarik dari Pasarean itu berada pada tokoh yang dimakamkan di sana. Yaitu para Raja Madura Barat dari abad ke-16 sampai abad ke-19. Jelasnya, di balik deretan tiga cungkup utama, berbaring jasad raja-raja dari Keraton Plakaran, Bangkalan, yang hidup pada era pemerintahan Dinasti Panembahan Cakraningrat alias Raden Praseno, hingga tujuh turunan.

Para raja itu diantaranya adalah kuburan Panembahan Cakraningrat II alias Raden Undakan (1648-1770), Panembahan Cakraadiningrat V alias Raden Sidomukti (1646-1770), Panembahan Cakradiningrat VI alias Raden Tumenggung Mangkudiningrat (1770-1780), dan Sultan Cakraadiningrat I alias Raden Abdurahman (1780-1815). Tiga penguasa Keraton Bangkalan (Kerajaan Plakaran) lainnya, yakni Panembahan Cakraningrat I alias Raden Praseno (1624-1648), serta Panembahan Cakraningrat III alias Pangeran Suroadingrat (1707-1718).

Selain terdapat makam para raja Madura. Daya tarik lainnya ada pada motif dan ukiran unik yang ada di perabotan makam. Yaitu susunan batu andelis pada pintu gerbang kedua, cungkup peringgitan tempat menerima tamu peziarah, cungkup tempat penyimpanan senjata dan sisa perabotan peninggalan kerajaan, cungkup para juru kunci, serta tiga cungkup utama tempat bersemayamnya jasad para raja. Demikian pula aksesori hiasan memolo dan kemuncak yang bertebaran di puncak atap masing-masing cungkup.

Rumit memang, pemahaman kita terhadap konfigurasi seni ukir yang ada di kompleks makam. Apalagi di balik konfigurasi seni ukir itu tersimpan simbol misteri yang melambangkan kerukunan antar umat dari tiga agama yang berkembang pada saat itu, yakni Islam, Buddha, dan Hindu. Jika peziarah teliti, simbol kerukunan itu, meski samar, nampak terlihat transparan, sebab di antara hamparan ragam bentuk seni ukir itu, tersisip ukiran bunga teratai yang menyimbolkan ajaran Budha, miniatur Ganesha sebagai simbol Hindu, serta ukiran kaligrafi sebagai simbol Islam. Ketiganya saling bertaut menggambarkan sebuah cerita kerukunan antar umat di Madura pada dulu kala.

Karena itulah sejak masa pemerintahan Panembahan Cakraningrat I pada lima abad yang silam, ajaran tentang pentingnya kerukunan antar umat beragama sangat ditekankan. Khususnya di daerah Bangkalan, Madura.

Sayangnya, ajaran kebaikan tentang keagamaan dan falsafah yang ada di balik keunikan dan kemisterian Pesarean Aermata tak banyak orang tahu. Hal ini dapat dilihat dari datangnya para peziarah yang kebanyakan dari daerah luar Madura dan Pulau Jawa. Inilah tantangan yang harus segera dijawab oleh pemerintahan setempat bekerjasama dengan masyarakat dan para ahli sejarah, untuk terus berupaya maksimal menggali dan menyebarluaskan informasi sejarah yang ada di negeri ini.  Seperti sejarah Aermata sendiri.

catatan:m.ridlo’i

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: