Cinta Reyog Tak Sampai

1

Mungkin sebagian dari kita terpaku akan keindahan penampilan pertunjukkan Reyog. Sempatkah terpikir apa arti di balik itu semua?

Alunan nada-nada pelog dari kempul, ketipung, gong, kenong, angklung dan selompret (terompet tradisional) bertalu-talu. Irama tersebut terdengar mengiringi goyangan tarian Reyog (ejaan yang kini digunakan, red) khas Ponorogo.

Diawali tampilan penari jatilan dengan kuda tunggangannya. Warok tua dan warok muda pun masuk mengiringi para penari jatilan. Warok muda mengenakan baju dan celana serba hitam berkolor besar, ikat pinggang besar, keris dan ikat kepala hitam (gadung mondholan). Dagunya dipasangi jambang lebat, sedangkan dadanya digambari rambut. Warok tua tampil lebih kalem tanpa banyak riasan serta ikat kepala berwarna cokelat (modang).

Kemudian, disusul dengan masuknya Patih Bujang Ganong dan binatang Reyog Singo Barong dan Dhadhak Merak, yang dilanjut dengan masuknya Raja Kelana Sewandhana.  Pertunjukkan terasa seru dan nuansa mistik mengiringi, serasa tak menggoyahkan nikmatnya penonton menyaksikan pertunjukkan tari Reyog.
2
Dalam lakon Reyog itu, menceritakan kisah cinta yang tidak kesampaian. Konon, penguasa kerajaan Bantarangin Prabu Kelana Swandana mengutus para pasukannya pimpinan Patih Bujang Ganong untuk melamar putri kerajaan Jenggala di Kediri, Sanga Langit.

Di tengah perjalanan rombongan disergap singa berbadan besar (Singa Barong). Kalah bertarung Bujang Ganong kembali. Prabu Klana Swandana akhirnya turun dan berhasil menaklukkan Singa Barong yang berubah menjadi Dadak Merak.

Sang putri mau disunting asalkan Prabu Kelana berkenan menciptakan seni pertunjukkan baru dengan melibatkan pasukan berkuda (Jathilan), meskipun pernikahan tidak jadi. Pasukan Prabu Klana membuat tarian arak-arakan perang diiringi tingkah sorak-sorai dan inilah yang dinamakan tari Reyog khas Ponorogo.

Sebelumnya, sebagian orang tak begitu paham jika dibalik nuansa mistik tampilan tari Reyog telah mengusung cerita asmara. “Selama ini pikiran saya dari tampilan Reyog itu menceritakan kisah misteri. Namun, ternyata Reyog itu ibarat drama percintaan,” celetuk Nani (31), salah seorang penonton pertunjukan Reyog.

(naskah/foto:m.ridlo’i)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: